Propinsi Sumatera Utara terletak diantara 98°-100° Bujur Timur dan 1°-4°
Lintang Utara dengan luas daerah 71.680 Km² atau 3.72 % dari Luas Wilayah
Indonesia. Dikelilingi 162 pulau, yang mana 156 pulau tersebar sepanjang Pantai
Barat dan 6 Pantai Timur. Sebelah Utara berbatasan dengan D.I. Aceh, sebelah
Selatan berbatasan dengan Sumatera Barat dan Propinsi Riau, sebelah barat dengan
Samudera India sebelah timur dengan selat Malaka. Propinsi ini juga berdekatan dengan Singapore, Malaysia, Thailand.
Rumah adat merupakan salah satu aset kebudayaan bangsa ini. Setiap
daerah memiliki rumah adat dengan ciri khas dan keunikan masing-masing.
Namun, sayang semakin hari semakin banyak masyarakat daerah yang
meninggalkan rumah adat dan beralih pada rumah biasa. Hanya sebagian
daerah, orang, atau suku yang masih bertahan di rumah adat.
Salah satu rumah adat yang menarik ialah rumah adat Batak Karo. Rumah
adat ini dikenal juga sebagai rumah adat Siwaluh Jabu. Siwaluh Jabu
memiliki pengertian sebuah rumah yang didiami delapan keluarga.
Masing-masing keluarga memiliki peran tersendiri di dalam rumah
tersebut.
Rumah adat Karo ini berbeda dengan rumah adat suku lainnya dan
kekhasan itulah yang mencirikan rumah adat Karo. Bentuknya sangat megah
diberi tanduk. Proses pendirian sampai kehidupan dalam rumah adat itu
diatur oleh adat Karo, dan karena itulah disebut rumah adat.
Penempatan keluarga-keluarga dalam rumah adat Batak Karo ditentukan
oleh adat Karo. Secara garis besar rumah adat ini terdiri atas jabu jahe
(hilir) dan jabu julu (hulu). Jabu jahe juga dibagi menjadi dua bagian,
yaitu jabu ujung kayu dan jabu rumah sendipar ujung kayu.
Tetapi, ada kalanya rumah adat Batak Karo terdiri atas delapan ruang
dan dihuni oleh delapan keluarga. Sementara dalam rumah ini hanya ada
empat dapur. Masing-masing jabu dibagi dua sehingga terbentuk jabu-jabu
sedapuren bena kayu, sedapuren ujung kayu, sedapuren lepar bena kayu,
dan jabu sedapuren lepar ujung kayu.
Rumah Adat Batak Toba
Rumah
Adat Batak Toba disebut Rumah Bolon, yang memiliki bangunan empat
persegi panjang yang kadang-kadang ditempati oleh 5 sampai 6 keluarga.
Memasuki Rumah Bolon ini harus menaiki tangga yang terletak di
tengah-tengah rumah, dengan jumlah anak tangga yang ganjil. Bila orang
hendak masuk rumah tersebut, harus menundukkan kepala agar tidak
terbentur pada balok yang melintang. Hal ini diartikan tamu harus
menghormati si pemilik rumah.
Lantai rumah adat batak ini kadang-kadang sampai 1,75m di atas tanah dan
bagian bawah dipergunakan untuk memelihara hewan, seperti babi, ayam,
dan sebagainya. Pintu masuk rumah adat ini, dahulunya memiliki 2 macam
daun pintu yaitu daun pintu yang horizontal dan vertikal, tapi sekarang
daun pintu yang horizontal tak dipakai lagi. Ruangan dalam rumah adat
merupakan ruangan terbuka tanpa kamar-kamar, walaupun bersamaan disitu
lebih dari satu keluarga, tapi bukan berarti tidak ada pembagian
ruangan. Karena dalam rumah adat ini pembagian ruangan dibatasi oleh
adat mereka yang kuat.

Ruangan di belakang sudut sebelah
kanan dinamakan jabu bong, yang ditempati oleh kepala rumah atau porjabu
bong, dengan isteri dan anak-anak yang masih kecil. Namun di sudut kiri
berhadapan dengan Jabu bong dinamakan Jabu Soding, yang dikhususkan
untuk anak perempuan yang telah menikah tapi belum mempunyai rumah
sendiri. Sedangkan untuk sudut kiri depan dinamakan Jabu Suhat,
diperuntukkan bagi anak laki-laki tertua yang sudah nikah dan di
seberangnya disebut Tampar Piring diperuntukkan bagi tamu.
Jika keluarga besar maka diadakan tempat di antara dua ruang atau jabu
yang berdempetan, sehingga ruangan bertambah dua lagi dan ruangan ini
disebut Jabu Tonga-ronga ni jabu rona. Walaupun rumah tersebut
berdempetan, tiap keluarga mempunyai dapur sendiri yang terletak di
belakang rumah, berupa bangunan tambahan. Dan di antara dua deretan
ruangan yakni di tengah-tengah rumah merupakan daerah netral yang
disebut telaga dan berfungsi sebagai tempat bermusyawarah.
Rumah adat Batak Toba berdasarkan fungsinya dapat dibedakan ke dalam
rumah yang digunakan untuk tempat tinggal keluarga disebut ruma, dan
rumah yang digunakan sebagai tempat penyimpanan (lumbung) disebut Sopo.
Bahan-bahan bangunan terdiri dari kayu dengan tiang-tiang yang besar dan
kokoh. Dinding dari papan atau tepas, lantai juga dari papan sedangkan
atap dari ijuk atau daun rumbiah. Tipe khas rumah adat Batak Toba adalah
bentuk atapnya yang melengkung dan pada ujung atap sebelah depan.
Bolon, Rumah Adat Batak Simalungun

Sub etnis Batak Simalungun berdiam di sebagian wilayah Deli
Serdang sebelah Timur Danau Toba. Rumah adatnya berbentuk panggung
dengan lantai yang sebagian disangga balok-balok besar berjajar secar
horizontal bersilangan. Balok-balok ini menumpu pada pondasi umpak.
Dinding rumah agak miring dan memilliki sedikit bukaan/jendela. Atapnya
memilliki kemiringan yang curam dengan bentuk perisai pada sebagian
besar sisi bawah, sedang sisi atas berbentuk pelana dengan gevel yang
miring menghadap ke bawah. Pada ujung atas gevel biasanya dihiasi dengan
kepala kerbau. Tanduknya dari kerbau asli dan kepalanya dari injuk yang
dibentuk.Bagian-bagian konstruksi rumah diukir, dicat serta digambar dengan
warna merah, putih dan hitam. Selain sarat dengan nilai filosofis,
ornamentasi rumah memiliki keunggulan dekoratif dalam memadukan unsur
alam dan manusia dengan unsur geometris. Menyampaikan sebuah ungkapan
pertemuan masyarakat dapat dimunculkan dengan bentuk geometri segi empat
yang ditengahnya diberi lingkaran lalu diberi corak ragam hias manusia
beruang berkeliling lingkaran. Menyampaikan sebuah ungkapan hubungan dua
manusia ditampilkan dengan bentuk geometri kotak melambangkan dekorasi
badan manusia di mana bagian atas dan bawahnya diberi kepala dalam
posisi berlawanan arah. Corak ragam ornamen ini selalu berulang, melalui
proses tradisi turun temurun, berkembang dan berpadu saling melengkapi
dengan bentuk dekorasi lain.
Masyarakat Batak Simalungun mempercayai adanya kekuatan roh halus,
membedakannya dari yang baik dan jahat. Untuk menolak yang jahat agar
tidak mengganggu penghuni rumah juga diwujudkan dengan ornamentasi
konstruksi rumah dengan bentuk tertentu. Hiasan penolak roh jahat ini
dapat berupa kepala manusia dan bentuk-bentuk yang runcing. Hiasan lain
yang khas adalah pengecatan pada penampang balok-balok horizontal di
kolong rumah. Balok-balok berbentuk silinder ini hanya berposisi 2 modul
struktur pada bagian depan rumah. Di bagian belakangnya digantikan
tiang-tiang yang berposisi vertikal.
Denah rumah memanjang ke belakang dengan tiga modul struktur di
bagian depan dan 5 sampai 7 modul ke belakang. Dua pintu terletak di
bagian depan dan belakang. Untuk mencapai rumah digunakan anak tangga
yang berjumlah ganjil. Satu modul struktur bagian depan tidak berdinding
dan digunakan sebagai beranda/teras. Bagian tengah modul ini juga
dihilangkan dan digantikan dengan tangga utama menuju rumah. Dengan
demikian terbentuk teras yang berjumlah dua dan berada di kiri-kanan
tangga utama. Karena teras berada satu level dengan lantai rumah
panggung maka posisinya di atas. Untuk mengamankan dibuat pagar
mengelilingi teras.
Rumah Adat Pakpak, Bentuk, Bahan, Arti dan Fungsi
Rumah Adat Pakpak, Bentuk, Bahan, Arti dan Fungsi
Rumah adat Pakpak memiliki bentuk yang khas yang dibuat dari bahan kayu
dengan atap dari bahan ijuk. Bentuk desain rumah adat Pakpak selain
sebagai wujud seni budaya Pakpak, setiap bentuk desain dari
bagian-bagian Rumah Adat Pakpak tersebut memiliki arti tersendiri. Jika
diteliti dengan cermat dan diketahui maknanya, maka cukup dengan melihat
rumah adat Pakpak akan bisa mendeskripsikan bagaimana Suku Pakpak
berbudaya.


Bentuk dan Arti Rumah Adat Pakpak
Bubungan atap : Bentuk melengkung, dalam bahasa Daerah Pakpak-Dairi
disebut: “Petarik-tarik Mparas ingenken ndengel”, artinya: “Berani
memikul resiko yang berat dalam mempertahankan adat istiadat”.
Tampuk bubungan yang bersimbolkan “Caban”, artinya : “Simbol kepercayaan Puak Pakpak“
Tanduk kerbau yang melekat dibubungan atap, artinya: “Semangat kepahlawanan Puak Pakpak”.
Bentuk segitiga pada rumah adat pakpak, artinya menggambarkan susunan
adat istiadat Puak Pakpak dalam kekeluargaan yang terbagi atas tiga
bahagian atau unsur besar sebagai berikut:(a). SENINA, adalah saudara
kandung laki laki, (b). BERRU, adalah saudara kandung perempuan, (c).
PUANG”, adalah kemanakan.
Dua buah tiang besar disebelah muka rumah “Binangun”, artinya “Kerukunan rumah tangga antara suami istri”.
Satu buah balok besar yang dinamai “Melmellon” yang melekat disamping
muka rumah, menggambarkan “Kesatuan dan Persatuan dalam segala bidang
pekerjaan melalui musyawarah, atau lebih tepat disebut “Gotong royong”.
Ukiran-ukiran yang terdapat pada segitiga muka rumah yang bentuknya
bermacam macam corak, dalam bahasa daerah Pakpak disebut: (a). Perbunga
Kupkup, (b). Perbunga kembang,(c). Perbunga Pancur, dan sebagainya yang
menggambarkan bahwa puak Pakpak pun berdarah dan berjiwa seni.
Tangga rumah yang biasanya terdiri dari bilangan ganjil, 3 (tiga), 5
(lima) dan 7 (tujuh), menggambarkan bahwa penghuni rumah itu adalah
keturunan raja (marga tanah), sebaliknya yang memakai tangga rumah
genap, menandakan bahwa penghuni rumah tersebut bukan keturunan marga
tanah (genengen).
Pintu masuk dari bawah kolong rumah menunjukkan kerendahan hati dan kesiapsiagaan.
Fungsi Rumah Adat Pakpak :
1. Penggunaaan rumah adat : Rumah adat adalah tempat permusyawaratan
mengenai masalah yang menyangkut kepentingan umum dan tempat mengadakan
upacara upacara adat istiadat.
2. Isi rumah adat adalah :
(a). Genderang,
(b). Garantung,
(c). Serunai,
(d). Sordan, labat, taratoa, seruling, semuanya alat alat kesenian daerah.
(e). Patung panglima atau pahlawan pahlawan, dan
(f). Mejan, ditempatkan dihalaman rumah.
3. Pilo-pilo yang digantung dalam segitiga dipermukaan rumah adat
menggambarkan adanya hubungan yang harmonis antara masyarakat dan
pemimpinnya dan sebagai lambang kebijaksanaan pimpinan dalam mengayomi
masyarakatnya.
4. Gambar lidah payung menggambarkan kepercayaan masyarakat kepada
pemimpinnya yang senantiasa memberikan bantuan dalammemelihara
kesentosaan dan kesejahteraan masyarakat.
 |
Kota Medan |
Danau Toba
sibolga kota tua
Kota Sibolga adalah salah satu Kota di Provinsi Sumatra Utara.
Wilayahnya seluas 3.356,60 ha yang terdiri dari 1.126,9 ha daratan
Sumatera, 238,32 ha daratan kepulauan, dan 2.171,6 ha lautan.
Pulau-pulau yang termasuk dalam kawasan Kota Sibolga adalah Pulau Poncan
Gadang, Pulau Poncan Ketek, Pulau Sarudik dan Pulau Panjang. Secara
geografis kawasan ini terletak di antara 1 42' - 1 46' LU dan 98 44' -
98 48 BT dengan batas-batas wilayah: Timur, Selatan, Utara pada
Kabupaten Tapanuli Tengah, dan Barat dengan Teluk Tapian Nauli. Letak
kota membujur sepanjang pantai dari Utara ke Selatan menghadap Teluk
Tapian Nauli. Sementara sungao-sungai yang dimiliki, yakni Aek Doras,
Sihopo-hopo, Aek Muara Baiyon dan Aek Horsik
Sementara wilayah
administrasi pemerintahan terdiri dari tiga kecamatan dan 16 kelurahan.
Ketiga kecamatan itu yakni Kecamatan Sibolga Utara dengan empat
kelurahan, Kecamatan Sibolga Kota dengan empat kelurahan, dan Kecamatan
Sibolga Selatan dengan delapan kelurahan.
Berikut sakilas sejarah terbentuknya kota SIBOLGA, yang saya kutip dari berbagai sumber:
Sultan Hutagalung Menurut penulis Sejarah Sibolga, Tengku Luckman Sinar
SH—dengan mengutip hasil catatan riset seorang pembesar Belanda, EB
Kielstra - disebutkan bahwa sekitar tahun 1700 seorang dari Negeri
Silindung bernama
Tuanku Dorong Hutagalung mendirikan
Kerajaan Negeri Sibogah, yang berpusat di dekat Aek Doras. Dalam catatan
EB Kielstra ditulis tentang Raja Sibolga: "Disamping Sungai Batang
Tapanuli, masuk wilayah Raja Tapian Nauli berasal dari Toba, terdapat
Sungai Batang Sibolga, di mana berdiamlah Raja Sibolga."

Penetapan
tahun 1700 itu diperkuat analisis tingkat keturunan yakni bahwa Marga
Hutagalung yang telah berdiam di Sibolga sudah mencapai sembilan
keturunan. Kalau jarak kelahiran antara seorang ayah dengan anak pertama
adalah 33 tahun -angka ini adalah rata-rata usia nikah menurut
kebiasaan orang Batak—lalu dikalikan jumlah turunan yang sudah sembilan
itu, itu berarti sama dengan 297 tahun. Maka kalau titik tolak
perhitungan adalah tahun 1998, yaitu waktu diselenggarakannya Seminar
Sehari Penetapan Hari Jadi Sibolga pada 12 Oktober 1998, itu berarti
ditemukan angka 1701 tahun.
Tentang nama atau sebutan Sibolga,
dicerita-kan bahwa pada awal-nya Ompu Datu Hurinjom yang membuka
perkampungan Simaninggir, mempu-nyai postur tubuh tinggi besar, di
samping memiliki tenaga dalam yang kuat. Adalah tabu bagi orang Batak
menyebut nama seseorang secara langsung apalagi orang tersebut lebih tua
dan dihormati, maka untuk menyebut nama kampung yang dibuka Ompu Datu
Hurinjom dipakai sebutan "Sibalgai", yang artinya kampung atau huta
untuk orang yang tinggi besar.
Asal kata Sibolga dengan
pengertian tersebut lebih dapat diterima daripada untuk istilah
"Bolga-Bolga", yaitu nama sejenis ikan yang hidup di pantai berawa-rawa;
atau istilah "Balga Nai" yang berarti besar untuk menunjukkan ke arah
luasnya lautan. Orang Batak biasanya menggunakan kata "bidang" untuk
menggambarkan sesuatu yang luas, bukan kata balga yang berarti besar.
Tapi
apa pun kisah awal kelahiran nama dan Kerajaan Sibolga, kota di Teluk
Tapian Nauli ini telah menjalankan peran sejarah yang sangat berarti. Di
masa lalu Sibolga berjaya sebagai pelabuhan dan gudang niaga untuk
barang-barang hasil pertanian dan perkebunan seperti karet, cengkeh,
kemenyan dan rotan. Inggris bahkan pernah menjadikan Sibolga sebagai
pelabuhan gudang niaga lada terbesar di Teluk Tapian Nauli.
Lebih
dari itu, berdasarkan Besluit Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada 7
Desember 1842 tempat kedudukan Residen Tapanuli dipindahkan dari Air
Bangis ke Sibolga, dan sejak itulah Sibolga resmi menjadi Ibukota
Keresidenan. Meski statusnya sebagai Ibukota Keresidenan sempat
dipindahkan ke Padang Sidempuan antara tahun 1885 - 1906, namun predikat
itu akhirnya kembali lagi ke Sibolga berdasarkan Staadblad yang
dikeluarkan pada 1906 itu.

Dalam perjalanannya, pada 1850, di
masa Mohd Syarif menjadi Datuk Poncan, bersama-sama dengan Residen
Kompeni Belanda bernama Conprus, mereka pindah dari Pulau Poncan ke
Pasar Sibolga. Pada tahun ini pula rawa-rawa besar itu ditimbun untuk
menyusunnya menjadi sebuah negeri pula.
Sibolga jolong basusuk
Banda digali urang rantau
Jangan manyasa munak barisuk
Kami sapeto dagang sansai
Maksudnya
yakni bahwa pada mulanya Kota Sibolga ini dibangun dengan menggali
parit-parit dan bendar-bendar untuk mengeringkan rawa-rawa besar itu,
dengan menggerakkan para narapidana (rantai) serta ditambah dengan
tenaga-tenaga rodi, ditim-bunlah sebagian rawa-rawa itu dan berdirilah
negeri baru Pasar Sibolga.
Di masa Sibolga dibangun menjadi kota,
istana raja yang berada di tepi Sungai Ack Doras dan pemukiman di
sekelilingnya dipindahkan ke kampung baru, Sibolga Ilir. Di atas komplek
tersebut dibangun pendopo Residen dan perkantoran Pemerintah Belanda.
Walaupun pada tahun 1871 Belanda menghapuskan sistem pemerintahan
raja-raja dan diganti dengan Kepala Kuria, namun Anak Negeri
menganggapnya tetap sebagai Raja dan sebagai pemangku adat.
Sementara
Datuk Poncan di Sibolga diberi jabatan sebagai Datuk Pasar dan tugasnya
memungut pajak anak negeri yang tinggal di Kota Sibolga terhadap warga
Cina perantauan, Di dalam melaksanakan tugasnya, Datuk Pasar dibantu
oleh Panghulu Batak, Pangulu Malayu, Pangulu Pasisir, Pangulu Nias,
Pangulu Mandailing dan Pangulu Derek.
Pada 1916 Datuk Stelsel
dihapuskan serta diganti dengan Demang Stelsel, mengepalai satu-satu
distrik menurut pembagian yang diadakan, dalam mana Pasar Sibolga masuk
Distrik Sibolga, sebagaimana beberapa resort kekuriaan. Untuk memudahkan
kontrol berdasarkan Besluit Gubernur Jenderal Hindia Belanda,
Keresidenan Tapanuli dibagi menjadi tujuh Afdeling yaitu Afdeling
Singkil, Sibolga, Nias, Barus, Natal, Angkola dan Mandailing. Sedangkan
Afdeling Sibolga terdiri dari beberapa distrik yakni Distrik Sibolga,
Distrik Kolang, Tapian Nauli, Sarudik, Badari, dan Distri Sai Ni Huta.
Pada
masa Pemerintahan Militer Jepang, Kota Sibolga dipimpin oleh seorang
Sityotyo (baca: Sicoco) di samping jabatannya selaku Bunshutyo (baca:
Bunsyoco), tapi dalam kenyataanya adalah Gunyo yang memegang pimpinan
kota sebagai kelanjutan dari Kepala Distrik yang masih dijabat oleh
bekas demang, ZA Sutan Kumala Pontas.
Pada masa pendudukan
Jepang, Mohammad Sahib gelar Sutan Manukkar ditunjuk sebagai Kepala
Kuria dengan bawahan Mela, Bonan Dolok, Sibolga Julu, Sibolga Ilir, Huta
Tonga-tonga, Huta Barangan dan Sarudi. Beliau inilah yang menjadi
Kepala Kuria yang terakhir di Sibolga karena setelah zaman kemerdekaan,
sekitar tahun 1945 istilah Kepala Kuria praktis sudah tidak ada lagi.
Mengenai Sejarah Kuno Sibolga
Tidak
dapat diketahui secara pasti sejak kapan bumi Teluk Tapian Nauli mulai
dihuni orang. Namun berdasarkan sejumlah catatan sejarah, diperkirakan
sejak tahun 1500 sudah terjadi hubungan dagang antara para penghuni
Teluk Tapian Nauli dengan dunia luar yang paling jauh yakni negeri
orang-orang Gujarat dan pendatang dari negeri asing lain seperti Mesir,
Siam, Tiongkok. Para golongan terkemuka Tapian Nauli juga sudah dikenal
di Mesopotamia, paling tidak melalui sejarah lisan yang dibawa saudagar
Arab.
Tercatat pula bahwa pada tahun 1500 itu pelaut Portugis
sudah hilir mudik di lautan dalam rangka mencari dan mengumpulkan
rempah-rempah untuk dibawa ke Eropa. Uang Portugis yang beredar di
kalangan masyarakat yang berdiam di Teluk Tapian Nauli saat itu
merupakan salah satu bukti. Ketika itu keberadaan Teluk Tapian Nauli
sangat penting. Selain sebagai pangkalan pengambilan garam, dusun ini
terkenal juga sebagai pangkalan persinggahan perahu-perahu mancanegara
guna mengambil air untuk keperluan pelayaran jauh.
Peranan Teluk
Tapian Nauli sebagai pangkalan persinggahan dan pelabuhan dagang semakin
dikukuhkan ketika Belanda dan Inggris memasuki wilayah itu di kemudian
hari. Kapal Belanda di bawah pimpinan Gerard De Roij datang kepantai
Barat Sumatera—Teluk Tapian Nauli—pada 1601. Sedangkan Inggris memasuki
wilayah ini pada 1755.
Kehadiran dan gerak langkah Belanda dan
Inggris di Teluk Tapian Nauli bisa dilihat dari beberapa kronologi
peristiwa berikut ini:
1604 : Perjanjian antara Aceh dengan Belanda, yaitu antara Sultan Iskandar dengan Oliver.
1632 : Kapal Belanda mulai berhadapan dengan Inggris di Pantai Barat Sumatera dalam rangka kepentingan dagang.
1667 : Belanda mendirikan benteng (loji) di Padang.
1668
: Belanda mulai dengan politik adu domba, menghasut Tiku dan Pariaman
lepas dari Aceh. Barus pro Pagaruyung diusir dari berbagai tempat.
1669 : Setelah berkuasa di Sumatera Barat, Belanda mulai mengincar pesisir Tapanuli dan mendirikan loji di Barus.
1670
: Karena keserakahan Belanda (VOC) dengan praktek dagangnya yang
monopolistis, pemberontakan di Barus terhadap Belanda tidak dapat
dielakkan dan terus meningkat. Raja Barus dibantu oleh adiknya Lela
Wangsa berhasil mengusir Belanda dan menghancurkan loji Belanda.
1678
: Belanda dapat membalas, namun pada ketika itu perang sengit antara
Raja Barus dengan Belanda terus berkobar. Raja Barus melakukan taktik
gerilya. Putera raja di Hulu berhasil membuhuh dokter Belanda dan
seorang serdadu Belanda. Namun Belanda berhasil menangkap Raja I^ela
Wangsa dan membuangnya ke Afrika Selatan.
1733 : Belanda semakin
merajalela dengan berhasilnya menangkap Raja Barus. Seterusnya bukan
hanya Barus saja yang diserang, tapi Belanda juga menyerang Sorkam.
Kolang dan Sibolga.
1734 : Oleh karena Belanda telah melakukan
penyerangan terhadap Raja-Raja yang ada di Teluk Tapian Nauli, maka
Raja-Raja yang ada di Teluk Tapian Nauli mengkonsolidasikan diri, maka
lahun ini terjadilah peperangan secara besar-besaran terhadap Belanda.
Serangan datang dari Sibolga, Kolang, Sorkam dan Barus dipelopori anak
Yang Dipertuan Agung Pagaruyung.
1735 : Belanda terkejut dan
kewalahan menghadapi peperangan ini. Belanda melakukan penelitian, dan
ternyata diketahui bahwa semangat patriotisme yang dikobarkan dari Raja
Sibolga itulah sumber kekuatan. Belanda ingin melampiaskan rasa
penasarannya kepada Raja Sibolga, namun tidak berhasil, Antara 1755-1815
pesisir Pantai Barat Sumatera Utara, Teluk Tapian Nauli, berada di
bawah pengaruh Inggris. Pada 1755 Inggris memasuki Tapian Nauli dan
membuat benteng di Bukit Pulau Poncan Ketek (Kecil). Mereka mulai
menguasai loji-loji Belanda dan markas Aceh yang berada di pesisir Barat
Tapanuli.
1758 : Pasukan Inggris mulai mengusir loji-loji
Belanda dan juga markas Aceh dari pesisir barat Tapanuli. Silih berganti
usir-mengusir antara Inggris dengan Belanda.
1761 : Perancis meninggalkan Poncan. Kemudian Inggris datang bekerjasama dengan penduduk Tapian Nauli dan Sibolga.
1770
: Karena suasana perdagangan mulai tenang, maka Inggris mendatangkan
budak dari Afrika dan India untuk mengerjakan urusan dagang dan
perkebunan Inggris. Kuria Tapian Nauli dan Raja Sibolga merasa keberatan
atas tindak tanduk Inggris ini.
1771 : Stains East Indian Company Inggris di Tapanuli dinaikkan menjadi "Residency Tappanooly".
1775
: Karena dagang Inggris mulai menurun karena tidak mendapat simpati
dari Kuria Tapian Nauli dan Raja Sibolga, maka Belanda mengambil
kesempatan mengadakan perjanjian dagang dengan Kuria Tapian Nauli dan
Raja Sibolga.
1780 : Puncak perselisihan antara Belanda dengan
Inggris adalah persoalan monopoli garam. Kesempatan ini dipergunakan
oleh Aceh untuk menyerang Inggris di Teluk Tapian Nauli. Aceh untuk
sementara dapat menduduki Teluk Tapian Nauli, akan tetapi Inggris
meminta bantuan dari Natal dan Inggris kembali menduduki Tapian Nauli
(Poncan Ketek).
1786 : Aceh kembali menyerang Inggris di Tapian Nauli. Serangan ini tidak berhasil karena Inggris meminta bantuan ke Natal.
1801
: Jhon Prince ditetapkan menjadi Residen Tapanuli berkedudukan di
Poncan Ketek. Sejak saat itu Poncan Ketek mulai ramai didatangi oleh
orang Cina, India, dan lain-lain.
1815 : Residen Jhon Prince
mengadakan kontrak perjanjian dengan Raja-Raja sekitar Teluk Tapian
Nauli, termasuk Raja Sibolga. Perjanjian ini disebut "Perjanjian Poncan"
atau "Perjanjian Batigo Badusanak".
1825 : Inggris menyerahkan Poncan kepada Belanda, sebagai realisasi Traktat London 17-3-1824.
1850 : Belanda mulai menata pemukiman di Sibolga dengan menimbun rawa-rawa dan membuat parit-parit.
OBJEK WISATA
SEJARAH
Teluk Tapian Nauli Dalam Peran Sejarah
Secara
pasti tidak dapat diketahui sejak kapan bumi Teluk Tapian Nauli (TTL)
di huni oleh manusia. Namun berdasarakan sejarah, diprakirakan sejak
tahun 1500 sudah terjadi hubungan dagang antara para penghuni TTL dengan
dunia luar yang paling jauh yakni negeri orang SUJARAT dan pendatang
dari negeri asing seperti MESIR, SIAM, TIONGKOK dan sebagainya.
Para golongan terkemuka TTL juga telah dikenal di MESOPOTAMIA, paling tidak dari sejarah lisan yang
di sampaikan oleh saudagar ARAB.
Tercatat pula bahwa pada tahun 1500 tersebut, pelaut PORTUGIS telah hilir mudik untuk membawa
hasil
bumi TTL ke Eropah. Di kala itu, mata uang PORTUGIS sangat memegang
peranan penting dalam proses perdagangan di TTL, selain mengenal mata
uang asing masyarakat TTL telah memulai system perdagangan modern.
Peranan
TTL Sebagai Pangkalan Persinggahan dan Pelabuhan dagang semakin
dikukuhkan ketika BELANDA dan INGGRIS memasuki wilayah tersebut. Kapal
BELANDA di bawah pimpinan GERARD DE ROIJ Datang ke Pantai Barat Sumatera
– Teluk Tapian Nauli pada tahun 1601 sedangkan INGGGRIS memasuki
wilayah tersebut pada tahun 1755.
Perluasan Kota di Kawasan Parombunan
Sudah
menjadi rahasia umum, bahwa Sibolga kota memang memerlukan ekspansi
lahan untuk dapat mengimbangi perkembangan kota ini sejak lama, bahkan
untuk perumahan pun sudah sejak belasan tahun masyarakat mendirikan
rumah di tebing-tebing yang curam di sekitar Sibolga, barang kali secara
jangka panjang , perencana kota menganggap bahwa lokasi pengembangan
dan perluasan kota di arahkan ke sekitar dan melalui Parombunan.
Selain
itu terdapat pula jalan melingkar ke Sibolga julu arah utara dan jalan
melingkar ke arah selatan hingga Tano Ponggol, bersamaan dengan itu pula
di kawasan prombunan terdapat dua sekolah serta peruntukan gedung olah
raga yang dibanggakan oleh Kota Sibolga. Bila demikian halnya , bahwa
Parombunan dilihat strategis sebagai pengembangan wilayah kota, karena
itu perlu dilakukan perintisan dan ajakan terhadap masyarakat agar jalan
keliling arah utara maupun arah selatan bisa merupakan alternative bagi
pelintas dari utara ke Kota Sibolga, maupun dari arah selatan langsung
ke utara.

Bila
demikian halnya barang kali sosialisasinya yang perlu digencarkan,
sosialisasinya yang perlu diberi perhatian. Saya kira masyarakat Sibolga
akan sangat setuju bila perluasan Kota Sibolga dikomunikasikan secara
jelas , namun akan menyisakan pekerjaan yang lebih rinci mengenai
pemanfaatan tata ruang di sepanjang lintasan tersebut, serta persyaratan
keamanan bagi mereka yang membangun perumahan pada lokasi kemiringan
yang terjal. Masalah berikutnya barangkali adalah bagaimana menyalurkan
infrastruktur seperti air minum /PAM, telepon, gas, listrik serta
angkutan umum lain ke daerah tersebut sehingga menjadikannya semakin
ramai untuk didiami oleh penduduk Kota Sibolga.
Demikian
pula halnya dengan penataan lingkungan, misalnya daerah mana yang
dimanfaatkan oleh pemda untuk fasilitas perkantoran, perumahan, dagang,
pasar dan industri tentu memerlukan pananganan lebih lanjut. ***
sibolga - tapteng
Kota Sibolga adalah salah satu Kota di Provinsi Sumatra Utara.
Wilayahnya seluas 3.356,60 ha yang terdiri dari 1.126,9 ha daratan
Sumatera, 238,32 ha daratan kepulauan, dan 2.171,6 ha lautan.
Pulau-pulau yang termasuk dalam kawasan Kota Sibolga adalah Pulau Poncan
Gadang, Pulau Poncan Ketek, Pulau Sarudik dan Pulau Panjang. Secara
geografis kawasan ini terletak di antara 1 42′ - 1 46′ LU dan 98 44′ -
98 48 BT dengan batas-batas wilayah: Timur, Selatan, Utara pada
Kabupaten Tapanuli Tengah, dan Barat dengan Teluk Tapian Nauli. Letak
kota membujur sepanjang pantai dari Utara ke Selatan menghadap Teluk
Tapian Nauli. Sementara sungao-sungai yang dimiliki, yakni Aek Doras,
Sihopo-hopo, Aek Muara Baiyon dan Aek Horsik.
Topografi

Kota
Sibolga dipengaruhi oleh letaknya yaitu bcrada pada daratan pantai,
lereng, dan pegunungan. Terletak pada ketinggian di atas permukaan laut
berkisar antara 0 - 150 meter, kemiringan (lereng) lahan bervariasi
antara 0-2 persen sampai lebih dari 40 persen dengan rincian; kemiringan
0-2 persen mencapai kawasan seluas 3,12 kilometer persegi atau 29,10
persen meliputi daratan Sumatera seluas 2,17 kilometer persegi dan
kepulauan 0,95 kilometer persegi; kemiringan 2-15 persen mencapai lahan
seluas 0,91 kilometer persegi atau 8,49 persen yang meliputi daratan
Sumatera seluas 0,73 kilometer persegi dan kepulauan seluas 0,18
kilometer persegi; kemiringan 15-40 persen meliputi lahan seluas 0,31
kilometer persegi atau 2,89 persen terdiri dari 0,10 kilometer persegi
wilayah daratan Sumatera dan kepulauan 0,21 kilometer persegi; sementara
kemiringan lebih dari 40 persen meliputi lahan seluas 6,31 kilometer
persegi atau 59,51 persen terdiri dari lahan di daratan Sumatera seluas
5,90 kilometer persegi dan kepulauan seluas 0,53 kilometer persegi.
Berdasarkan
kemiringan lahan tersebut di atas, maka yang paling dominan adalah
kemiringan lebih dari 40 persen. Karena hanya berada beberapa meter di
atas permukaan laut, iklim Kota Sibolga termasuk cukup panas dengan suhu
maksimum mencapai 32 C dan minimum 21,6 C. Sementara curah hujan di
Sibolga cenderung tidak teratur di sepanjang tahunnya. Curah hujan
tertinggi terjadi pada bulan November dengan jumlah 798 mm, sedang hujan
terbanyak terjadi pada Desember yakni 26 hari.
Pelabuhan laut kota Sibolga cukup ramai disinggahi kapal kapal yang akan mnuju pulau Nias.
Demografi
Penduduk
Kota Sibolga berdasarkan perhitungan Badan Pusat Statistik Kota Sibolga
Tahun 2000 adalah 87.265 jiwa. Dengan wilayah seluas 3.356,60 ha di
daratan Sumatera dan urban growth seluas 644,53 ha berarti kepadatan
penduduk pada wilayah pemukiman adalah 13.359 jiwa per km persegi.
Sementara pertumbuhan penduduk setiap tahunnya sekitar 1,41 persen.
Potensi
utama perekonomian bersumber dari perikanan, pariwisata, jasa,
perdagangan, dan industri maritim. Hasil utama perikanan, antara lain,
kerapu, tuna, kakap, kembung, bambangan, layang, sardines, lencam dan
teri.
Saat ini dipimpin Walikota Sahat Pinorshinta Panggabean, sedangkan Wakil Walikota Afifi Lubis.
Tapanuli Tengah
Tapanuli Tengah adalah sebuah kabupaten di Sumatera Utara dengan luas wilayah 2.188 km² dan populasi 297.000 jiwa. Ibu kotanya ialah Pandan. Percepatan pembangunan dilaksanakan dengan konsep pembangunan TAPANULI GROWTH yaitu sinergi kabupaten / kota lingkup Kawasan Barat Sumatera Utara, Aceh Singkil dan Simeulue (Provinsi NAD) untuk menciptakan pola pertumbuhan kawasan yang kompetitif dengan Kawasan Industri Terpadu Labuan Angin Kabupaten Tapanuli Tengah sebagai pusat koleksi (hub) komoditas unggulan daerah.
Masyarakat Dan Kebudayaan
Dunia Kelautan mewarnai corak kehidupan masyarakat & kebudayaan di Teluk Tapian Nauli.
Dari
tata cara berpakaian, ekonomi dan mata pencaharian yang di geluti
sehari – hari, sistem teknologi, sistem ilmu pengetahuan, ilmu sosial
dan organisasi sosial serta bahasa yang dipergunakan sangat jelas
menggambarkan keterikatan mereka dengan dunia laut.
Keindahan
pulaU, riak gelombang, kerap menjadi sumber inspirasi mereka dalam
berkesenian atau melakukan upacara perkawinan, berpantun atau bertalibun
lebih sering menggambarkan bagaimana kecintaan mereka terhadap dunia
kebaharian itu.
Wisata bahari belum begitu
banyak di Sumatera Utara. Lantas, ketika orang menyebut-nyebut Pulau
Poncan, kami jadi antusias melihatnya langsung. Yang pertama terbayang
di benak kami adalah snorkling, diving, sea food, dan fishing. Tapi
ternyata Poncan lebih dari itu.
Berangkat dari Medan, Pulau
Poncan di Sibolga bisa dicapai lewat dua jalur. Kalau ingin cepat,
penerbangan reguler dari Bandara Polonia ke Bandara Pinangsori bisa jadi
pilihan. Dengan pesawat, perjalanan ke Sibolga hanya memakan waktu
sekitar 45 menit. Tapi kalau lewat darat, perjalanan akan molor menjadi
kurang lebih 9 jam (350 km). Memang melelahkan. Keuntungannya, kita bisa
menikmati keindahan alam, mulai dari Danau Toba, Salib Kasih di
Tarutung, panorama air terjun, ratusan bukit, dan makanan-makanan khas
lokal seperti kacang sihobuk.
Kalau tidak berniat membawa mobil
sendiri, Anda bisa memilih dua jenis angkutan darat. Yang pertama adalah
taksi jenis Mitsubishi L-300. Taksi ini memuat 8 orang penumpang dengan
ongkos Rp 60.000. Selain itu, bus besar juga tersedia dengan ongkos
lebih murah.
Kami memilih naik taksi L-300, berangkat malam
sekitar pukul 20.30 WIB, dan baru tiba di Sibolga pukul 06.30 pagi. Kota
pelabuhan itu masih dibalut selimut. Tapi aktivitas para penjual sayur
dan buah sudah dimulai.
Sibolga, sebuah kota tua yang terjepit
antara perbukitan dan Samudera Hindia. Mata pencaharian utama
penduduknya melaut dan berdagang. Kota ini melahirkan berbagai macam
ikan asin terkenal. Kini Sibolga sedang berbenah diri menjadi kota
tujuan wisata. Destinasi diperbanyak dan diperbaiki. Ketika kami menyewa
satu becak keliling kota, pemilik becak sudah tahu betul harus membawa
kami ke mana. Dia cukup menyenangkan dan memberi kami banyak informasi.
Keliling seluruh kota, cukup hanya membayar Rp 25.000.
Sebagai
kota tua, Sibolga punya beberapa warisan yang layak dikunjungi. Anda
kami rekomendasikan melihat objek wisata Tangga Seratus. Di bagian atas
bukit ini, masih berdiri kokoh bangunan bekas perusahaan air minum
kolonial Belanda yang dibangun tahun 1929. Sebagian bangunan ini masih
dipakai PDAM Tirta Nauli Sibolga. Di atas bangunan itu ada sirene yang
dipancarkan dari sebuah dinamo tua milik kolonial. Dulu, perusahaan air
minum itu menggunakannya untuk memanggil para pekerja. Tapi kini sirene
hanya dipakai untuk menandai buka puasa pada bulan Ramadhan. Suaranya
bisa didengar seluruh penduduk kota, bahkan sampai ke beberapa daerah di
Tapanuli Tengah.
Meski namanya Tangga Seratus, tapi untuk
mencapai puncak bukit, kita harus melewati 290 anak tangga. Siapkan
lutut, karena Anda akan menaklukkan anak-anak tangga yang tersusun pada
kemiringan 80 derajat.
Di atas bukit, pemerintah daerah sudah
membangun tempat-tempat duduk peristirahatan. Dari sana, kota Sibolga
kelihatan sekali pandang. Menyenangkan sekali. Pulau-pulau dan laut
bagaikan lukisan dinding.
Selain Tangga Seratus, Sibolga juga
masih memiliki beberapa bukit lengkap dengan fasilitas
peristirahatannya. Bulit-bukit itu diberi tulisan raksasa di
puncaknya,layaknya tulisan Hollywood di Amerika Serikat, di mana para
aktris dan aktor dunia berebut peran pada film-film besar dan
bersejarah. Di Sibolga, ada Tor (bukit) Simarbarimbing dan Bukit
Anugerah.
Jangan lupa mengunjungi makam tua pendiri Sibolga,
rumah adat, tugu-tugu kota yang menarik, dan berbagai sudut kehidupan
warga yang cukup unik. Misalnya tukang seterika jalanan, kehidupan pasar
tradisional, tempat pembuatan perahu, ikan asin, dan sebagainya.
***
Sebelum
menuju pulau Poncan, kami diminta langsung ke Hotel Wisata Indah,
satu-satunya hotel berkelas internasional di kota itu dengan panorama
yang langsung ke laut. Hotel ini difasilitasi kolam renang dan taman,
massage, business centre, international satellite (Indovision),
international direct dialing, golf course, dan driving range.
Kamar-kamar
yang tersedia mulai dari kelas superior hingga president suite bertarif
Rp 1.618.000 per malam. Dari kamar hotel, tamu bisa menikmati
pemandangan laut dan suara ombak yang pecah di pantai.
Kami tidak
lama mengunjungi hotel ini karena harus segera menuju Pulau Poncan.
Resepsionis hotel memandu kami ke Dermaga Lama, sekitar 150 meter dari
Hotel Wisata. Selanjutnya kami dijemput dengan speed boat 40 PK yang
kemudian meluncur langsung ke Pulau Poncan.
Pagi itu tidak ada
tamu lain di atas speed boat. Operator boat memberitahu bahwa kunjungan
memang menurun drastis pasca tragedi tsunami. Padahal sebelumnya, Pulau
Poncan sudah ramai didatangi tamu-tamu dari Medan, Jakarta, bahkan
mancanegara. “Kadang-kadang, boat ini malah tidak bisa menampung tamu
sekali jalan,” katanya.
Sekitar 15 menit di atas speed boat,
operator sudah menunjukkan sebuah pulau dengan pantai yang putih
memanjang. Di hadapan kami, dermaga kecil dari kayu menjadi tempat
sandar beberapa unit kapal dan speed boat. Di ujung dermaga, ada semacam
gapura yang di atasnya tertulis: “Welcome to Sibolga Marina Poncan”.
Kami telah tiba rupanya.
***
Pulau Poncan adalah salah
satu pulau dari ratusan pulau lain di sekitar perairan Sibolga. Pulau
ini terbentang puluhan hektar, memiliki bukit dan hutan kecil yang masih
asli. Bibir pulau sebagian berpasir dan sebagian lagi berbatu. Kurang
gencarnya promosi membuat belum banyak orang yang tahu bahwa Poncan
telah berkembang menjadi tempat kunjungan wisata bahari berfasilitas
serba lengkap. Di sini ada Sibolga Marine Resort, berbintang dua, dan
satu-satunya resort bahari di Sumatera Utara. Suasananya sangat asri dan
ditata mirip perkampungan lokal.
Sibolga Marine Resort
dilengkapi 70 ruangan berisi berbagai fasilitas. Untuk kelas standard Rp
185.000, superior Rp 260.000 dan deluxe Rp 500.000. Tamu juga bisa
melewatkan berbagai aktivitas seperti water sport shop, belanja di
souvenir shop, video game room, billiard room, children playground,
fishing, diving, snorkling, dan boat charter.
Lokasi resort ini
persis menghadap laut dan hanya dipisahkan pantai. Para tamu yang ingin
menikmati laut dan ombak, bisa tiduran di kursi-kursi santai pinggir
pantai sambil menikmati cemilan. Atau kalau lagi ingin bakar ikan,
silakan lakukan sendiri di tempat barbeque yang tersedia di dekat
pantai.
Malam hari, kami sendiri memilih menikmati makan di
restoran sambil minum bir. Angin sejuk datang dari arah Samudera Hindia,
menembus dinding restoran yang dibiarkan terbuka tanpa sekat. Tsunami
telah membuat tempat ini sunyi.
***
Pulau Poncan bukan
hanya tempat menikmati laut. Di sini tamu juga bisa melakukan aktivitas
treking melewati hutan dan bukit yang cukup curam. Tapi jangan takut,
pengelola pulau sudah membuat jalan rintisan dan tali sebagai alat
bantu. Menuju puncak Poncan hanya butuh sekitar setengah jam. Itu bila
Anda tidak sedang loyo.
Hutan kecil Poncan masih menyimpan
kekayaan berbagai jenis flora dan fauna. Di sana-sini masih terdapat
pohon besar dan tua, parasit-parasit yang unik, kantung semar, dan
tumbuhan-tumbuhan yang menjalar liar bagaikan tempat Tarzan berayun.
Kami
ingatkan, sebelum memanjat bukit, siapkanlah beberapa hal. Pertama,
oleskan bagian tubuh Anda yang terbuka dengan krim anti nyamuk untuk
menghindari gigitan nyamuk hutan. Pakailah sepatu yang memungkinkan Anda
tidak gampang tergelincir. Bawa minuman, dan jangan tinggalkan kamera
di kamar, karena sesuatu yang indah menunggu jepretan Anda di atas sana.
Setelah
melewati hutan kecil, kami sampai di atas. Sebagaimana diberitahukan
pengelola resort sebelumnya, kami menemukan lobang-lobang bekas bunker
tentara Jepang. Rupanya pulau ini sangat penting untuk memenangkan
pertempuran. Ada lima bunker yang kami temukan, dan satu sama lain
tampaknya saling terhubung lewat terowongan-terowongan sempit. Hanya
cocok untuk ukuran badan orang Jepang zaman dulu. Bunker-bunker
berdiameter 3 sampai 5 meter, terdiri dari tempat pengintaian,
perbekalan, dan lobang-lobang yang saling menghubungkan kelimanya.
Sayang, lobang-lobang itu belum direkonstruksi sehingga tidak bisa
dimasuki sebagaimana lobang buatan Jepang di Bukit Tinggi, Sumatera
Barat.
Usai berurusan dengan bunker tentara Jepang, kami
menikmati pemandangan lepas dari puncak Poncan ke berbagai penjuru
dunia. Apa yang tampak di sekeliling kami adalah pulau-pulau yang
berlapis, gugusan perbukitan, mulai dari yang hijau sampai yang
membayang di kejauhan. Ada sensasi tersendiri ketika kita berdiri di
satu tempat dan pulau Sumatera hanyalah sebuah latar. Dan hanya kamera
Andalah yang bisa menceritakannya pada orang lain.
Di sekeliling
pulau, kapal-kapal besar dan kecil lalu lalang. Nelayan mencari hidup.
Berbagai jenis alat tangkap, baik yang statis maupun bergerak dapat
disaksikan dengan jelas.
***
Perjalanan belum selesai.
Tujuan tidak berhenti di Poncan saja. Sebenarnya banyak pulau di
perairan Sibolga yang menarik untuk dikunjungi. Tapi semuanya tidak bisa
dilakukan sekali jalan. Pada kunjungan kali ini, kami memilih beberapa
pulau yang paling sering memikat hati tamu.
Salah satu yang
paling populer adalah pulau Mursala, salah satu pulau terbesar di
gugusan itu. Dari Poncan kami menaiki speed boat. Sebenarnya waktu
tempuh ke sana hanya butuh satu jam, tapi karena keberangkatan kami
siang dan menentang angin laut, perjalanan jadi sedikit agak lama.
Pulau
Mursala punya anak-anak pulau seperti pulau Putih dan Canggi.
Pulau-pulau ini berdekatan dan memiliki perairan yang sangat jernih.
Mandi, snorkling, atau memancing menjadi kegiatan yang menarik. Di pulau
Putih sudah dibangun pondokan-pondokan lengkap dengan air bersih dan
tempat-tempat barbeque sea food. Pengunjung juga bisa minum air kelapa
muda dengan cara memetiknya sendiri. Kelapa-kelapa hibrida itu sengaja
ditanam untuk para tamu.
Menurut legenda masyarakat setempat,
dulunya pulau Mursala dan pulau Putih dihuni oleh seorang putri yang
ditemani seekor anjing penjaga. Sedangkan pulau Canggi dihuni seseorang
bernama Canggi dengan seekor buaya peliharaannya.
Pulau Mursala
adalah pulau yang subur dengan kekayaan alam yang melimpah. Sementara
pulau Canggi sangat sempit san gersang. Suatu hari, Canggi menyuruh
buaya sakti peliharaannya mengambil sesuatu dari pulau itu. Tapi anjing
pengawal memergokinya dan terjadi perkelahian sengit di antara dua
binatang pengawal itu. Pada akhir perkelahian, sang anjing sudah
kewalahan dan berniat melarikan diri. Tapi buaya tidak membiarkannya.
Ketika anjing hampir berhasil diterkamnya, tiba-tiba sesuatu terjadi.
Kedua hewan itu tak dapat bergerak dan lama kelamaan menjadi batu.
Kedua
binatang yang telah jadi batu itu masih tampak sampai sekarang.
Posisinya mirip buaya yang sedang menerkam anjing. Uniknya, lokasi di
sekitar batu itu selalu bersih sampai sekarang, meski sekitarnya penuh
dengan daun-daun hutan yang lebat. Legenda ini masih hidup di tengah
masyarakat lokal, dan sebagian mereka masih percaya pulau itu menyimpan
banyak emas perhiasan milik sang putri.
Mengelilingi pulau
Mursala dengan speed boat berkekuatan 40 PK membutuhkan waktu
berjam-jam. Bagian yang menarik dari pulau ini adalah air terjun. Dari
cerita penduduk, air terjun itu mengalir dari sebuah waduk yang mirip
baskom di atas bukit. Di sepanjang aliran air terjun itu ada bagian yang
membentuk sungai tawar, dan di dalamnya hidup ikan jurung yang lezat.
Air
terjun ini pun punya cerita sendiri. Konon, tempat ini bisa mengabulkan
jodoh bagi para lajang dan gadis. Tapi jodohnya baru akan terkabul
apabila seseorang dapat menemukan tujuh jenis jeruk di sekitarnya. Tentu
saja ini hanya kepercayaan lama. Hingga sekarang, belum semua bagian
dari pulau Mursala tereksplorasi sebagai kunjungan wisata.
Ketika
menuju pulang, kami masih sempat mengunjungi pulau Situngkus. Pulau
ini, meski kecil, tapi punya keunikan sendiri. Prototipnya lebih banyak
berbatu, nyaris vertikal dan cukup tinggi. Bila waktu liburan Anda lebih
panjang, Andalah yang meneruskan ke pulau-pulau lainnya.